Hai Oktober!
kita ketemu lagi, di malam yang dingin terdengar gemercik hujan yang selalu membasahi halaman depan rumahku..
Hujan..
hujan ini mengingatkanku kepada bulan Oktober yang lalu, aku mengerti .. walaupun hujan yang malam ini sangat berbeda dengan malam yang lalu..
kau tau?? bukan hanya hujan saja yang membasahi halaman rumahku, tapi..
hujan itu pun mengalir di pipiku malam ini.
Entah apa yang terjadi aku meresa berbeda malam ini dengan malam sebelumnya.
aku terangat asing dengan diriku sendri,,
Tadi sore saat senja itu tiba..
aku dengan pria itu lagi-lagi berargumen, entah apa yang ada dalam benaknya. sehingga dia sangat membenciku, dia berbicara "aku mencintaimu" entah kenapa, saat dia berkata itu padaku sangat terasing, apa mungkin saat tadi senja dia meninggalkanku? sehingga aku mendengar kata itu sangat asing?
salahkah aku tadi mengejar dia dan menahan dia saat dia ingin pergi meninggalkan ku?
Hujan malam ini sangat penuh kisah, mungkin sekarang aku lagi berhadapan dengan sepucuk bunga mawar yang enggan layu, dan disitu lah aku paham..
mawar yang enggan layu di kasih air pun tidak bisa se-segar seperti awal di petik..
sama halnya, hati yang sudah di ambang kepedihan dan enggan hilang, ia bisa tumbuh kembali. tapi tidak halnya seperti yang dulu dia mencintaiku.
Hujan..
Air mata yang jatuh di pipiku dan jatuh juga ke lenganku yang luka sangat perih..
bahkan luka di tanganku mewakili perasaanku malam ini.
terkedang saat aku menulis ini, sampai lupa rasanya perih luka di tanganku karena terkalahkan oleh perihnya hatiku, aku menyadari perihnya luka tanganku setelah aku membalas chatting dari dia di ponselku.
Aku pernah merasakan hujan di bulan Oktober yang lalu, sama halnya seperti namun tipenya saja yang berbeda, aku dulu pernah merasa kecewa yang sangat besar, bahkan hatiku pernah rapuh seperti mawar yang enggan layu, yang aku bicarakan tadi.
sebenarnya aku sangat takut berhadapan sama bulan Oktober yang lalu, tetapi....
aku sadar mungkin roda bakal berputar, bukan mungkin! tapi iya! roda itu bakal berputar, dan aku yakin suatu saat nanti aku bakal lagi merasakan hal yang sama..
dan ternyata benarrr hujan:'))))
Hujan..
aku ingin bercerita sedikit..
kenapa hatiku begitu rapuh?apa karena hatiku yang sudah pergi terlalu jauh?:')
Hujan..
aku ingin sekali bertanya padanya, apakah dia sadar kehadiranku untuk apa?
luka yang sudah menyebar, akan menyadarkan sesuatu yang baru saja menyakitkan.
Hujan..
aku sadar emosi yang membuat semuanya hancur, sama sepertinya awan yang gelap akan menghasilkan hujan yang membasahi halaman rumahku.
Sadarnya menyadarkanku.. tapi adakah sepercik air hujan yang mengerti aku?
ya, kini aku semakin jauh dari waktu, sama halnya aku yang sudah mulai jauh dari dia, mungkin dia lagi asyik main denganmu hujan?sehingga dia semakin jauh dariku.
atau mungkin dia tak mengerti apa yang aku bicarakan? iya, dia tak akan mengerti hal ini.
aku hanya bisa mengubur sedalam dalamnya perasaanku saat ini..
dan aku hanya bisa menahan rasa perih&rapuhnya hatiku ini. agar dia bahagia..
aku tidak mau lagi hujan malam ini di sertai petir yang menyeramkan, lebih baik hujan yang membasahi pipiku tetapi ia senang dan bahagia dengan yang ia lakukan.
Hujan..
tolong sampaikan kepadaku kalau halnya nanti ia kecewa dengan dirinya sendiri&diriku, tolong jangan sampaikan kepadaku bahwa ia selalu bahagia, aku disini hanya ingin menampung perihnya saja. aku rela hujan membasahi pipiku lagi..
teruntuknya aku yang selalu tulus menunggu keluh kesahnya.
Siapa yang bisa mengerti aku saat ini? adakah seorang disana yang mengerti akan arti hujan di bulan Oktober?
Hujan, kadang aku membencimu. kadang juga kau bisa jadi inspirasiku ketika malam kelam tiba.
aku membencimu karena kau terlalu mengajak dia terlalu jauh, sehingga dia asyik denganmu.
dan dia lupa akan butuhnya aku saat ini.
Hujan, aku tak ingin membencimu lagi, kau harus jadi inspirasiku. kau penuh arti!
Tolong jangan ajak dia bermain terlalu jauh, aku membutuhkan dia. aku selalu menunggu sadarnya dia walaupun itu tak akan mungkin dia sadar akan semua ini.
hanya kau Hujan yang bisa mengerti aku malam ini.
gemerciknya suaramu di luar, di tambah malam kelam yang dingin menyelimuti tubuhku dan secangkir teh manis di samping laptopku yang bisa mengeri dengan apa maksud kata yang aku bicarakan tadi..
Hujan..
Izinkan aku bertemu pelangimu.. aku rindu bertemu pelangimu yang indah:')
biar suatu saat nanti aku akan bercirita lagi tentang pelangi yang bakal indah pada waktunya.. :')
sekali lagi untukmu Hujan, terimakasih kau yang paling mengerti hatiku malam ini, kau juga yang merasakan betapa rapuhnya hati ini saat merasa di dustai untuk kesekian kalinya..
semoga kau tidak muncul lagi di ceritaku yang berikutnya!:)
karena nanti aku akan menunggu ceritaku kepada pelangiMU!
kita ketemu lagi, di malam yang dingin terdengar gemercik hujan yang selalu membasahi halaman depan rumahku..
Hujan..
hujan ini mengingatkanku kepada bulan Oktober yang lalu, aku mengerti .. walaupun hujan yang malam ini sangat berbeda dengan malam yang lalu..
kau tau?? bukan hanya hujan saja yang membasahi halaman rumahku, tapi..
hujan itu pun mengalir di pipiku malam ini.
Entah apa yang terjadi aku meresa berbeda malam ini dengan malam sebelumnya.
aku terangat asing dengan diriku sendri,,
Tadi sore saat senja itu tiba..
aku dengan pria itu lagi-lagi berargumen, entah apa yang ada dalam benaknya. sehingga dia sangat membenciku, dia berbicara "aku mencintaimu" entah kenapa, saat dia berkata itu padaku sangat terasing, apa mungkin saat tadi senja dia meninggalkanku? sehingga aku mendengar kata itu sangat asing?
salahkah aku tadi mengejar dia dan menahan dia saat dia ingin pergi meninggalkan ku?
Hujan malam ini sangat penuh kisah, mungkin sekarang aku lagi berhadapan dengan sepucuk bunga mawar yang enggan layu, dan disitu lah aku paham..
mawar yang enggan layu di kasih air pun tidak bisa se-segar seperti awal di petik..
sama halnya, hati yang sudah di ambang kepedihan dan enggan hilang, ia bisa tumbuh kembali. tapi tidak halnya seperti yang dulu dia mencintaiku.
Hujan..
Air mata yang jatuh di pipiku dan jatuh juga ke lenganku yang luka sangat perih..
bahkan luka di tanganku mewakili perasaanku malam ini.
terkedang saat aku menulis ini, sampai lupa rasanya perih luka di tanganku karena terkalahkan oleh perihnya hatiku, aku menyadari perihnya luka tanganku setelah aku membalas chatting dari dia di ponselku.
Aku pernah merasakan hujan di bulan Oktober yang lalu, sama halnya seperti namun tipenya saja yang berbeda, aku dulu pernah merasa kecewa yang sangat besar, bahkan hatiku pernah rapuh seperti mawar yang enggan layu, yang aku bicarakan tadi.
sebenarnya aku sangat takut berhadapan sama bulan Oktober yang lalu, tetapi....
aku sadar mungkin roda bakal berputar, bukan mungkin! tapi iya! roda itu bakal berputar, dan aku yakin suatu saat nanti aku bakal lagi merasakan hal yang sama..
dan ternyata benarrr hujan:'))))
Hujan..
aku ingin bercerita sedikit..
kenapa hatiku begitu rapuh?apa karena hatiku yang sudah pergi terlalu jauh?:')
Hujan..
aku ingin sekali bertanya padanya, apakah dia sadar kehadiranku untuk apa?
luka yang sudah menyebar, akan menyadarkan sesuatu yang baru saja menyakitkan.
Hujan..
aku sadar emosi yang membuat semuanya hancur, sama sepertinya awan yang gelap akan menghasilkan hujan yang membasahi halaman rumahku.
Sadarnya menyadarkanku.. tapi adakah sepercik air hujan yang mengerti aku?
ya, kini aku semakin jauh dari waktu, sama halnya aku yang sudah mulai jauh dari dia, mungkin dia lagi asyik main denganmu hujan?sehingga dia semakin jauh dariku.
atau mungkin dia tak mengerti apa yang aku bicarakan? iya, dia tak akan mengerti hal ini.
aku hanya bisa mengubur sedalam dalamnya perasaanku saat ini..
dan aku hanya bisa menahan rasa perih&rapuhnya hatiku ini. agar dia bahagia..
aku tidak mau lagi hujan malam ini di sertai petir yang menyeramkan, lebih baik hujan yang membasahi pipiku tetapi ia senang dan bahagia dengan yang ia lakukan.
Hujan..
tolong sampaikan kepadaku kalau halnya nanti ia kecewa dengan dirinya sendiri&diriku, tolong jangan sampaikan kepadaku bahwa ia selalu bahagia, aku disini hanya ingin menampung perihnya saja. aku rela hujan membasahi pipiku lagi..
teruntuknya aku yang selalu tulus menunggu keluh kesahnya.
Siapa yang bisa mengerti aku saat ini? adakah seorang disana yang mengerti akan arti hujan di bulan Oktober?
Hujan, kadang aku membencimu. kadang juga kau bisa jadi inspirasiku ketika malam kelam tiba.
aku membencimu karena kau terlalu mengajak dia terlalu jauh, sehingga dia asyik denganmu.
dan dia lupa akan butuhnya aku saat ini.
Hujan, aku tak ingin membencimu lagi, kau harus jadi inspirasiku. kau penuh arti!
Tolong jangan ajak dia bermain terlalu jauh, aku membutuhkan dia. aku selalu menunggu sadarnya dia walaupun itu tak akan mungkin dia sadar akan semua ini.
hanya kau Hujan yang bisa mengerti aku malam ini.
gemerciknya suaramu di luar, di tambah malam kelam yang dingin menyelimuti tubuhku dan secangkir teh manis di samping laptopku yang bisa mengeri dengan apa maksud kata yang aku bicarakan tadi..
Hujan..
Izinkan aku bertemu pelangimu.. aku rindu bertemu pelangimu yang indah:')
biar suatu saat nanti aku akan bercirita lagi tentang pelangi yang bakal indah pada waktunya.. :')
sekali lagi untukmu Hujan, terimakasih kau yang paling mengerti hatiku malam ini, kau juga yang merasakan betapa rapuhnya hati ini saat merasa di dustai untuk kesekian kalinya..
semoga kau tidak muncul lagi di ceritaku yang berikutnya!:)
karena nanti aku akan menunggu ceritaku kepada pelangiMU!
untuk dia yang menyukainya. 17'11
Komentar
Posting Komentar